Bandung di Persimpangan Kiri Jalan

[Mus. 397]
Judul : Bandung di simpang jalan sebelah kiri
Pengarang : Hafidz Ashar
Penerbit: ProPublic Information
Tebal: xvi + 231 hlm, 13 x 19 cm
Percetakan: I, Februari 2021
ISBN: 978-623-93907-7-8

Bandung adalah kota gerakan nasionalis, ulama dan komunis pada paruh pertama abad 20, terutama pada tahun 1920. Tidak heran jika Bung Karno memulai gerakannya di Bandung saat belajar di Bandung. Sekolah Teknik Bandoeng / ITB Hooge (1921-1934).

Salah satu gerakan yang tumbuh dan berkembang pesat di Bandung saat itu adalah gerakan komunis atau sering disebut dengan gerakan kiri. Pengaruh gerakan kiri begitu kuat sehingga organisasi Sarikat Islam yang berbasis di Bandung terpecah menjadi Sarikat Islam Merah (SI Merah), yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.

Buku ini memuat 20 artikel tentang gerakan kiri di Bandung tahun 1920-an, yang penulisnya diambil dari berbagai surat kabar terbitan tahun 1920-an, dan berbagai referensi karya tentang gerakan kiri di Bandung.

Saat kita membaca buku ini, menjadi jelas bahwa gerakan kiri di Bandung, yang saat itu dipimpin oleh SI Merah dan PKI, telah berubah menjadi gerakan besar. Menurut sebuah sumber, Bandung adalah tempat kedua dari masalah komunis setelah Semarang sebagai basis terbesar.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertemuan kelompok kiri yang selalu menarik perhatian dengan jumlah peserta yang banyak. Ketika terjadi kelaparan di Rancaekek Bandung pada tahun 1923, SI Merah dan PKI mengadakan pertemuan untuk membahas kelaparan di Rancaekek. Surat kabar Sapoedjagat melaporkan bahwa sekitar 700 orang dari berbagai latar belakang menghadiri pertemuan tersebut.

Kongres Merah SI dan PKI juga digelar di Bandung tahun ini. Kemeriahan kongres berbaju merah dan berhiaskan foto-foto tokoh komunis di dalam dan luar negeri itu dihadiri 15 delegasi dari cabang PKI, 13 cabang ISIS, dan 300 asisten jenderal. Apalagi jumlah peserta terbesar dalam acara yang digagas oleh kelompok kiri yang ditemukan dalam buku ini adalah pertemuan Serikat Merah Islam Bandung dengan kelompok serikat pekerja VSTP, yang dihadiri oleh 2.100 peserta dan diliput oleh berbagai media. . Pertemuan tersebut tidak hanya dihadiri oleh anggota SI atau VSTP, tetapi juga pejabat pemerintah.

Kepedulian kiri/merah terhadap kaum muda tampaknya menjadi salah satu faktor yang membuat gerakan kiri di Bandung mampu tumbuh, berkembang pesat dan diterima oleh masyarakat Bandung saat itu. Selain menangani masalah kelaparan di Rancaekek, SI Merah dan PKI juga telah menangani pendidikan masyarakat kurang mampu. Pada bulan Januari 1922, Tan Malaka mendirikan Pesantren Sarekat di Bandung dengan biaya yang lebih murah dari sekolah-sekolah pada umumnya. Sekolah yang baru dibuka ini telah mendaftarkan 200 siswa dan telah berkembang pesat ke berbagai daerah di Bandung.

Untuk memperluas pengaruhnya, kaum kiri menggunakan kekuatan media sebagai juru bicaranya. Kehadiran koran-koran sayap kiri seperti Sapoejagad, Matahari , Soerapati , dll, yang menjadi alat propaganda, membuat mereka semakin kritis menanggapi apa yang terjadi di masyarakat. Tak jarang, koran-koran sayap kiri ini memancing kontroversi antara kaum kiri dan Priyayi, terutama dengan Bupati Bandung RAA Wiranatakusumah yang didukung Obor, Kaoem Moeda , dan lain-lain. Kontroversi di koran sayap kiri dan pro-Bupat sangat luas dan menarik untuk disimak dalam buku ini.

Di dalam buku itu juga tercatat kontroversi yang bisa bersifat pribadi tetapi mengerikan, terutama antara S. Goenawan S, manajer SI Merah, dan Padmawiganda, editor surat kabar Kaoem Moeda , karena Padmawiganda menuduh Goenawan sebagai seorang ateis. Kontroversi ini berlanjut atas permintaan S. Goenawan untuk mengadakan debat terbuka di masjid atau di Alun-alun Bandung. Sayangnya, Padmawiganda sepertinya tidak menerima tantangan itu, sehingga Goenawan memanggilnya "Tuan Keok". Kontroversi ini mungkin muncul karena tidak semua kaum kiri tidak bertuhan.

Sikap kritis kaum Merah dan Kiri dalam perjuangan melawan ketidakadilan, terutama sikap terbuka mereka terhadap kolonialisme dan gerakan kiri yang semakin masif dari waktu ke waktu, membuat marah pemerintah kolonial, sehingga pemerintah kolonial membentuk geng anti komunis. terdiri dari menak-priyayi. Dalam artikel yang berjudul The Actions of Terrorist Groups in Priangan 1924-1931 , penulis mengemukakan bahwa tindakan kekerasan antara kelompok kiri dan anti-komunis menjadi tak terelakkan, ada yang dipukuli, diculik dan dilempari batu ke rumah-rumah dan gedung-gedung milik mereka. .sebuah kelompok. bahwa mereka milik mereka sampai mereka rusak. .

Meskipun ada perbedaan mencolok antara kubu kiri dan Menak-Priyayi di Bandung, dan kedua kelompok ini sering menjadi bahan kontroversi di media, ada satu kasus yang mendamaikan kedua kubu yang diriwayatkan dalam buku ini, yaitu kasus Nyi Anah, yang didakwa dengan pembunuhan suaminya K.-Gruitering, seorang Belanda. Hal ini tidak jarang terjadi pada kasus penduduk asli dan Belanda. Dalam hal ini, baik sayap kiri maupun Menak-Priyayi sedang memperjuangkan keadilan bagi Nyi Anah.

Banyak hal menarik tentang gerakan komunis dalam buku ini, salah satu yang paling menarik adalah artikel yang mengungkap sebuah berita di surat kabar Soerapati tentang seorang haji Persia (Ikatan Islam) yang dianggap komunis karena ketika dia meninggal dia melakukan ritual. dan manajemen mereka berbeda, karena biasanya seorang Muslim meninggal. . Dalam artikel ini, penulis berpendapat bahwa cerita di surat kabar sayap kiri adalah pembelaan bahwa dia percaya Persia tidak melakukan kesalahan. Pada bagian ini penulis juga membuka wacana tentang kemungkinan hubungan baik antara kiri dan Persia

Namun, bukan tidak mungkin jika Grup Merah menjalin hubungan baik dengan Persia. Peluang seperti itu terlihat dalam aktivitas Ahmad Bassach sebagai tokoh komunis di Bandung. Ahmad Bassach tidak hanya menulis banyak karya sastra, tetapi juga menerjemahkan karya-karya Ahmed Hassan, yang dianggap sebagai mufti persatuan Islam.

Adapun hubungan baik antara komunis dan Uni Islam, tampaknya perlu ditegaskan dan diperdalam. Tidak ada pernyataan yang jelas bahwa komunis dan organisasi Persia memiliki hubungan yang begitu baik. (hal. 65-66)

Buku ini juga mendokumentasikan kemerosotan gerakan sayap kiri Bandung pasca penangkapan dan pengusiran tokoh-tokoh komunis Bandung seperti Moh, Sanoesi, Sardjono, Darmoprawiro, dll. kerusuhan yang terjadi di Bandung antara lain Nagreg, Cicalengka, Cimahi, Padalarang. Dari tanggal 13 hingga 17 November 1926, tidak kurang dari 15 kali serangan komunis terjadi di dalam dan sekitar wilayah Cimah.

Ada banyak gerakan kiri di Bandung yang menarik untuk disebutkan, di antaranya pemogokan Bandung tahun 1923, Siti Atikah, wanita Bandung yang bergabung dengan gerakan kiri, Alibasach Winata, tokoh komunis dari Bandung yang memimpin Serangan terhadap pers yang menyinggung ratu Belanda dll.

Satu hal yang sedikit memalukan untuk buku ini adalah sampul buku yang menghadap Bupati RAA Bandung. Wiranatakusumah saya Tan Malaka. Mungkin memang niat penerbit atau penulis untuk mewakili dua kubu yang berseberangan. Wiranatakusumah mewakili kanan, sedangkan Tan Malaka mewakili kiri, yang sering menjadi kontroversi di media arus utama saat itu. Bukankah konfrontasi antara Wirnatakusumah dan Tan Malaka akan menimbulkan interpretasi calon pembaca bahwa keduanya sama-sama bergerak di bidang yang sama?

Untuk menghindari kesalahpahaman, karena sampul bisa lebih baik jika desainnya disesuaikan untuk menciptakan kesan bahwa kedua karakter itu berlawanan. Atau karena buku ini sebagian besar berasal dari surat kabar yang terbit di Bandung pada tahun 1920-an, mungkin akan lebih baik jika sampul buku ini memuat kontroversi yang muncul di surat kabar dari kanan dan kiri.

Selain nomor judul, kehadiran buku ini patut mendapat pengakuan besar. Keberanian dan kejelian para penulis dan penerbit dalam menulis gerakan komunis di Bandung, yang mungkin dilupakan banyak orang, patut diacungi jempol, karena buku-buku tentang Bandung yang diterbitkan selama ini hanya menonjolkan keindahan dan eksotisme Bandung kuno. . Melalui buku ini pembaca akan melihat Bandung dari sisi lain, yakni dari kiri dengan segala kontroversi dan peristiwa yang terjadi saat itu.

Karena buku ini disajikan dalam bentuk kumpulan artikel independen yang sebagian besar dimuat di media online Ayobandung.com, maka buku ini tidak dapat digolongkan sebagai buku yang menganalisis gerakan kiri di Bandung secara komprehensif. Namun demikian, bukan berarti buku ini tidak berguna karena 20 artikel dalam buku ini dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang gerakan kiri di Bandung. Buku ini juga bisa disebut buku dasar karena sebelum buku ini diterbitkan, belum ada buku yang secara khusus membahas tentang gerakan kiri di Bandung.

Semoga buku ini dapat menginspirasi penulis lain, atau mungkin penulis buku ini sendiri, untuk menggunakannya sebagai batu loncatan untuk menghasilkan sebuah buku komprehensif yang menganalisis sejarah dan pergerakan kiri Bandung secara komprehensif.

@htanzil

Buku ini dapat ditemukan di (klik pada gambar)






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Picture of Wisdom

I Love Moday

Draculla by Bram Stroker