Maryam

n.m. 298
Arbitre : Marie
Pénulis : Okki Madasari
Penerbit : Gramedia de Pustak Utam
Chetakan : février 2012
Tébal : 275 g

Setelah tahun lalu masuk sebagai final 5 besar Khatulistiwa Literatura Saria akhirnya par tahun ini Okky Madasari penulis muta asal Magetan, Jawa Timur berhasil memenangkan anugerah Khatulistiwa Literary Award 2012 novella berjudul Maryam.

Selon Dewan Juri KLA 2012 memilih Maryam, il a poursuivi :

Novella ini berhasil mengangkat masalah kekerasan terhadap pengikut Ahmadiyah dari hiruk-pikuk berita médias controversés dan de sekitarnya ke tingkat yang berbeda. Ia menjadi critique terhadap penindasan yan dilakukan pikhak yan kuat terhadap yan lemah atas nama agama

(Prix littéraire Dewan Juri Hatulistiv, 2012)

Dalam nobela ketiganya ini Okky mengangkat kisah Maryam, seorang perempuan penganut Ahmadiyah asal Lombok dengan kisah Cintanya termasuk distribué eta penderitaan yang dialami keluarganya karena terusir dari kampung halamannya sendiri karena berbeda keyakinan

Eleberria ini dikisahkan bagaimana sebenarnya pengikut Ahmadiyah yan diwakili oleh keluarga Maryam sebenarnya telah sejak lama berbaur dengan masyarakat, hidup berdampingan dengan kaum musulman lainnya tiba menangjadi-tiba saumja sejad menyarakat menyarakat, hidup berdampingan dengan kaum musulman lainnya tiba menangjadi-tiba tiba saumja.

Sejak kecil sebenarnya Maryam Moulay menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda antara kepercayaan yang dianut keluarganya dengan kaum umumnya musulman. Ia menyadari bahwa kaumnya memiliki masjid sendiri dan pengajian sendiri yang secara rutin dilakukan oleh kaum Ahmadiyah.

Ketika beranjak dewasa Maryam semakin menyadari keeksklusifan kaumnya setelah ia Conductima wejangan bahwa kelak ia harus menikah dengan sesama kaum Ahmadi. Awalnya khal itu bukan masalah Bagi Maryam Karena memang sedang menjalin hubungan dengan Gamal, yang juga penganut Ahmadi, sayangnya kisah Cintanya kandas setelah kekasihnya ini berpindatuah keyakinan dan menyatakan bahwa seganesala sesakini diy.

Putus dari Gamal so membuat Maryam terpuruk, ia melanjutkan hidupnya, lulus sekolah ia bekerja de Jakarta eta memiliki karir yan cukup baik. Ils sont memiliki kekasih yang baru, Alam, yang bukan seorang Ahmadi. Hubungan ini tentu saja tidak direstui oleh kedua orang tuanya. Namun Maryam tidak peduli, ia memilih jalan hidupnya sendiri. Maryam meninggalkan keluarganya. Keluarga Alam sendiri tidak keberatan kalau anaknya menikah dengan Maryam dengan syarat Maryam bersedia menginggalkan kayakinannya.

Maryam akhirnya memilih meninggalkan keyakinannya agar dapat menikah dengan Alam, sayangnya pernikahan ini tidak berjalan mulus. Maryam yan tidak kunjung memiliki anak sering dikait-kaitkan oleh mertuanya yang meganggap it adalah hukuman akibat kepercayaan yang pernah dianutnya. Maryam akhirnya tidak tahan dan memilih bercerai dan kembali kepada orang tuanya de Lombok.

Sayangnya setiba par kampung halamannya, ia tidak menemukan dimana keluarganya berada karena keluarganya telah diusir oleh penduduk setempat karena keyakinan yang dianutnya. Dimana keluaganya berad? Dengan desertai rasa bersalahnya karena selama ini ia telah meninggalkan keluarganya Maryam bertekad untuk mencari dimana keluarganya berada.

Novela ini merupakan karya ketiga dari Oky Madasari setelah Entrok dan 86. Seperti kedua roman sebelumnya ketiga romana ini mengangkat realitas sosial yang hidup of masyarakat kecil yang tertindas. Dalam Maryam Okky dengan berani mengangkat thème sentsitive tenang perbedaan keyakinan yang beberap tahun belakangan ini menjadi sorotan pemberitaan media yaitu soal kekerasan yang menimp kaum Ahmadiyya.

Untuk menguatkan kisahnya kabarnya penulis melakukan Riset mendalam selama 6 bulan de Lombok termasuk mendataangi lokasi pengungsian Kaum Ahmadiyah de Gedung Transit dan wawancara dengan orang-orang Ahmadi yang rumahnya dirusak masse.

Berdasarkan Risetnya inilah Okky berhasil menulis nobela Maryam plus CD yang berisi lagu-lagu karyanya sendiri. Karenanya so heran novella ini tampak begitu membumi, dithulis dengan kalimat-kalimat sederhana tanpa harus kehilangan esensi dari apa yang hendak diangkat penulisnya. Okky juga berhasil mengetengahkan caractère dan perasaan Maryam secara kuat melalui kisah Cintanya, pengorbanannya, dan konflik yang dihadapinya Karena perbedaan keyakinan. Sayangnya Okky tampak kurang mendramatisir bebepa peristiwa yang sesungguhnya bisa membuat nobela ini lebih Dramatik Lagi sehingga dapat meninggalkan kesan yang lebih mendalam lagi bagi pembacanya.

Novela ini tidak menjelaskan apa itu Ahmadiyya dengan ajarannya namun ia mengangkat sisi manusiawi dari kaum Ahmadiyya yan meruapakan salah satu kaum yang terpinggirkan dan kerap mengalami aniyaya baik secara sosial maupun. Roman yan dibungkus dalam kisah personal tentang tape eta hubungan Maryam dengan keluarganya ini membuka mata hati kita tentang mereka yan terusir karena iman di negeri yang memiliki lambang burung garuda yan gaga yan sedang menchengkram semboyan "Bhineka Tunggal Ika"

Sumbangan terbesar roman ini pada kita semua adalah bagaimana melalui nobela ini kita dapat melihat sisi manusiawi kaum Ahmadiyah dari sudut pandang pour Ahmadi yang walaupun dikucilkan, bahkan dianiya sedemikian rupa namun mereka tetegu memcegu. Dengan bijak Okky tidak menyimpulkan benar atau salahnya ajaran ini, roman ini juga bukan roman pembelaan terhadap kaum Ahmadiyah melainkan roman yang yang membuat pembacanya melihat sisi lain dari apa yang sering kita baka dan saksadiya media by Ahmadiyah media.

Melalui roman ini Okky seakan hendak menyuarakan kaum yang selama ini tidak mampu bersuara karena dianggap sesat sehingga keadilan bukan hak mereka. Bukan menyuarakan ajaran mereka melainkan menyuarakan ketidakadilan dan derita dari mereka yang tertindas. Tidak hanya bagi kaum ahmadiyya melainkan bagi mereka yan tersisihkan karena perbedaan keyakinan.

Sebagai sebuah romano Yang Mengangkat thème ketidakadilan romano ini dut up dengan sebuah surat permohonan Yang Menggugah Yang Dithulis Maryam Untuk pour Penguasa



"Kami hanya ingin bisa pulang dan segera tinggal par rumah kami sendiri. Hidup Haman. Alors l'enfer est en retard yang menyerang. Biarlah yang dulu kami lupakan. hari ke depan kami bisa caché aman dan tentam. "

(hmm 274-275)


Okki Madasari, KLA 2012, Prose category saat memberikan sambutan di malam Anugerah Khatlusitiwa Literatur Saria ke 12 2011-2012 Plaza Senayan, 29 novembre 2012

Photo : Twitter @RichardOh http://mypict.me/index.php?id=348299958

@htanzil

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Picture of Wisdom

I Love Moday

Draculla by Bram Stroker